Khutbah Jumat : Anugerah Tuhan

Oleh : Drs. H. Zuber Dymyati 

Artinya : 
"Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkat mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan". (Al-Israa' 70). 

Jama 'ah Shalat Jum 'at yang berbahagia. Manusia adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah lebih mulia dan lebih istimewa dari pada makhluk-makhluk ciptaan Allah lainnya, sebagaimana disebutkan di dalam surat Al-Israa' ayat 70 di atas. 

Ini suatu bukti bahwa manusia adalah makhluk yang paling mulia Al-Qur'an kembali menegaskan : 


Artinya : 
"Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam ", maka sujudlah mereka kecuali Iblis". (Al-Baqarah 34). 

Dari dua ayat ini, membuktikan bahwa makhluk manusia mempunyai martabat dan derajat yang mulia di Sisi Allah SWT. Kemuliaan martabat dan derajat manusia itu diiringi dengan amanat Allah yang begitu berat dan istimewa yang tidak mungkin bisa diemban oleh makhluk-makhluk lainnya. 

Amanat pertama yang diberikan oleh Allah kepada manusia adalah beribadah kepada-Nya, sebagaimana disebutkan dalam firrnan-Nya: 


Artinya : 
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku". (Adz-Dzaariyaat 56). 

Dalam rangka beribadah kepada Allah, maka manusialah yang pertarna kali mendapat tuntutan. Ibadah tidak hanya terfokus kepada masalah shalat, zakat, haji dan sebagainya, akan tetapi ibadah dalam arti komplek, yakni hubungan kita kepada Allah "Hablun minallah " dan hubungan antara manusia dengan sesama manusia "Hablun minannas". 

Dalam kaitan ibadah manusia dituntut agar tidak ketinggalan, sebab secara tuntas dan totalitas hidupnya adalah untuk melaksanakan ibadah kepada Allah dengan ikhlas dan juga rela meninggalkan aktifitas-aktifitas lainnya. 

Dalam beribadah kepada Allah hendaklah kita berusaha melaksanakannya dengan khusyu', yakni seakan-akan Allah berada di depan kita, atau Allah selalu melihat kita. Rasulullah pernah menyatakan . 


Artinya : 
"Beribadahlah kamu sekalian kepada Allah seolah-olah kamu melihat-Nya, seandainya kamu tidak melihat-Nya, maka percaya dan yakinlah bahwa Allah senantiasa mengetahui apa yang kamu kerjakan ". (Al-Hadits). 

Adapun amanat kedua yang dibebankan oleh Allah kepada manusia adalah manusia sebagai makhluk sosial sekaligus Ebagai pemimpin di muka bumi ini. Sebagaimana firman-Nya : 


Artinya : 
"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". (Al-Baqarah 30). 

Sebagai pemimpin di permukaan dunia ini manusia bertugas untuk mengatur dan melestarikan segala sesuatu ciptaan Allah di alam dun.ia ini. 

Bukan sebaliknya, justru kehadiran manusia ke muka bumi ini adalah untuk membuat kerusakan-kerusakan terhadap alam ini. Karena begitu beratnya tugas manusia di permukaan bumi ini, maka manusia diberikan peralatan-peralatan oleh Allah Yang Maha Kuasa. 

Peralatan pertama adalah akal. Allah memberikan akal kepada manusia pada hakekatnya adalah untuk memikirkan segala kejadian-kejadian ciptaan Allah yang ada di alam semesta ini. 

Hendaknya kita memikirkan kehebatan dan keindahan yang telah Allah ciptakan di alam semesta ini. Semua ciptaan Allah pada hakekatnya diperuntukkan untuk manusia agar dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya. 

Keamanan dunia dan ketenangan serta ketentraman masyarakat yang ada di dalamnya tergantung kepada alam fikir manusia. Kalau manusia berfikir positif untuk memajukan dan Mensubur makmurkan alam dan masyarakat yang ada di dalamnya, maka akan terwujud. Tetapi sebaliknya. kalau manusia berfikir negatif untuk menghancurkan alam dan masyarakatnya. maka akan terwujud juga. Oleh karena adanya kerusakan dan kehancuran di permukaan bumi ini adalah disebabkan karena akal fikiran yang telah Allah anugerahkan kepada mereka tidak dipergunakan secara positif justru sebaliknya dipergunakan secara negatif. 

Allah menganugerahkan aka] fikiran kepada manusia agar dipergunakan untuk memikirkan apa yang terbaik untuk kemanfaatan orang lain, bukan sebaliknya untuk merugikan orang lain. 

Jama'ah Shalat Jum 'at yang berbahagia. 
Peralatan kedua yang diberikan oleh Allah kepada manusia adalah ilmu pengetahuan. Dengan pengetahuan akan terlihat perbedaan derajat dan martabat seseorang. Allah berfirman : 


Artinya : 
"Allah akan meninggikan orang orang yang beriman di antaramu dan orang orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat". (Al-Mujadilah 17). 

Dengan ilmu pengetahuan seseorang mampu memperoleh pangkat dan jabatan yang tingg. Ilmu pengetahuan merupakan manfaat dan berkah. Oleh karena itu Islam mewajibkan umatnya mencari ilmu pengetahuan, sebab ilmu pengetahuan mampu membedakan antara yang hak dengan yang bathil. 

Khutbah Jum 'at pada tanggal 15 Oktober 1993 di Kantor Pusat BRI.

Khutbah Jumat : Anugerah Tuhan

Khutbah Jumat : Syukur Akan Melanggengkan Dan Sabar Kakan Menghilangkkan Cobaan

Oleh : Dr. HM. Subki Abdul Kadir 


Artinya : 
"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji Orang - orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah me ngetahui orang - orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orangorang yang dusta". (Al-Ankabut ayat 2-3). 

Tiga istilah yang diberikan Rasul atas golongan manusia, yaitu: Yang beruntung, yang merugi dan yang terkutuk. Tidak ada alternatif lain dari tiga golongan tersebut, kita harus termasuk golongan orang yang beruntung, yakni dengan mengadakan peningkatan kebaikan dari waktu ke waktu. Mengapa harus lebih baik. Al-Qur'an memberikan jawaban: 


 
Artinya : 
"Dan orangorang yang bertaqwa kepada Tuhan dibawa ke dalam syurga berombong-rombongan ". (Az-Zumar ayat 73). 

Teknik pengantaran orang-orang yang bertaqwa kepada Tuhan, adalah kelompok demi kelompok. 

"Zumara" kelompok demi kelompok di sini adalah tidak simultan (serempak), yakni pada waktu kelompok diantarkan kelompok kedua harus menunggue Pada waktu kelompok kedua diantarkan kelompok ketiga harus menunggu, dan seterusnya. 

Mengapa demikian. Karena ketaqwaan kita tidak sama. Mereka yang diantarkan pertama kali adalah mereka yang ketaqwaannya paling baik. Semakin berada di belakang semakin kurang nilainya. 

Kemudian dimana golongan kedua, ketiga dan seterusnya itu menunggu, karena di akhirat tidak ada tempat untuk menunggu kecaali syurga dan neraka. Kalau dicari di syurga tidak ada, pasti ada di neraka. Sehingga kelompok kedua dan seterusnya pasti pernah menunggu di neraka walaupun seJenak. Yang tidak pernah menunggu adalah kelompok pertama. 

Untuk mencapai kelompok pertama kita harus selalu meningkatkan ketaqwaan, semoga sebelum ajal tiba kita sudah berada di kelompok pertama. Jawaban kedua adalah karena semua orang yang menyatakan dirinya beriman dan bertaqwa akan selalu diuji oleh Allah, sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Ankabut ayat 2 dan 3 di atas, untuk mengetahui siapa yang benar dan siapa yang dusta keimanannya. 

Ujian keimanan tergantung kuat atau lemahnya iman seseorang. Semakin kuat iman seseorang akan semakin berat ujiannya dan semakin lemah melan seseorang akan semakin ringan ujiannya. Kalau melihat imannya ingin yang kuat, tetapi kalau melihat ujiannya ingin yang ringan. Akan tetapi tidak mungkin iman yang kuat ujiannya ringan. 

Allah Maha Adil, tidak mungkin memberikan ujian kepada hamb a-Nya yang tidak kuat menerimanya. Dalam surat Al-Baqarah ayat 286 Allah menegaskan: 

 
Artinya :
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya" 

Yang menjadi permasalahan adalah sudahkah kita berikhtiar, sehingga mampu mengangkat atau belum. Apapun yang diberikan oleh Allah pasti bisa terangkat, tergantung kepada kita, sudah efisien atau belum. Kalau belum efisien tentu kita tidak mampu mengangkat. Ada dua jenis ujian yang diberikan oleh Allah, yaitu ujian yang sifatnya senang (manis) dan ujian yang sifatnya susah (pahit). 

Barang kali kita semua seirama, yakni ingin mendapatkan ujian yang manis. Tetapi masalah ujian bukan manis atau pahitnya, yang penting adalah lulusnya. Kalau ingin berlama-lama dalam kesenangan, maka bersyukurlah, dan kalau ingin cepat-cepat keluar dari kesusahan, maka bersabarlah. Allah menegaskan dalam surat Ibrahim ayat 7: 


Artinya : 
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". 

Ayat ini memastikan bahwa siapa yang bersyukur Allah akan menambah nikmat kepadanya, dalam artian nikmat yang lama tetap dan akan datang nikmat yang baru. Oleh karena itu fungsi syukur selain melestarikan yang lama juga menambah nikmat yang baru dan mencegah bencana. 

Syukur juga mempunyai tingkatan-tingkatan, yaitu yang paling rendah adalah syukur, hati kita merasa senang, senangnya di hati. Orang lain tidak mengetahuinya. Yang kedua adalah syukur lisani. Kesenangan yang ada dalam hati sudah terwu_iud dalam bentuk lisan, sehingga orang lain mengetahuinya, tetapi belum merasakan nikmat itu. 

Yang ketiga adalah symkur amali, manifestasinya lebih tinggi lagi, orang lain tidak hanya sekedar mengetahuinya, tetapi sudah ikut merasakannya. Syukur yang paling tinggi adalah syukur amanah, yang sedikit sekali orang melaksanakannya. Sehingga oleh Allah disifati dalam surat Saba' ayat 13: 



Artinya : 
"Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah), Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih " 

Syukur amanah ini adalah tidak pernah menggunakan kenikmatan yang diberikan oleh Allah kecuali hanya untuk ta'at kepada-Nya, tidak untuk maksiat dan khianat. 

Memang sangat sukar melaksanakan syukur amanah ini, tetapi Rasul mengatakan kalau belum bisa melaksanakan semuanya jangan ditinggalkan semuanya, laksanakan mana yang mampu. Ini konsep dasar ajaran Islam. Dengan bersukur yang seperti itu, kehidupannya akan cukup. Hidup yang cukup adalah menikmati, bukan menguasai harta. 

Islam mengajarkan hidup menikmati, karena tujuan pun-cak kita adalah menikmati fasilitas yang Allah sediakan di dalam surga, bukan memiliki surga. Rasulullah mengajarkan cara hidup cukup, yakni mengendalikan kebutuhan agar tidak melampaui pendapatan atau penghasilan dengan banyak shadaqah. Siapa yang bershadaqah Allah pasti mencukupi kebutuhannya. Allah menegaskan dalam Al-Qur'an:

 
Artinya : 
"Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertaqwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga). maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah ". (Al-Lail ayat 5-7). 

Sumber : Khutbah Jum 'at pada tanggal 28 Agustus 1992 di Kantor Pusat BRI.

Khutbah Jumat : Nikmat Illahi


Oleh : H. Manarul Hidayat 

Artinya : 
"Katakanlah: "Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)" (Al-Kahfi ayat 109). 

Tidak ada satupun mesin komputer mutakhir yang mampu menghitung nikmat Allah yang diberikan kepada hamba-Nya. Selain ayat di atas, surat Ibrahim ayat 34 juga menegaskan: 


Artinya : 
"Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)". 

Kata Rasul, Allah menciptakan seratus nikrnat. Dari seratus nikmat itu satu diturunkan kepada seluruh makhluk yang ada di dunia ini, termasuk manusia, jin dan makhluk yang lainnya. 

Hanya satu kenikmatan saja mampu menyulap indahnya dunia sekarang ini. Apalagi kalau sembilan puluh sembilan nikmat lainnya juga diturunkan ke dunia ini. Kemudian yang sembilan puluh sembilan nikmat itu untuk siapa. Yakni untuk orang yang bertaqwa ketika bertemu Allah di Syurga kelak. 

Oleh karena itu janganlah terkecoh oleh gemerlapnya dunia, yang hanya satu kenikmatan Allah, juga bukan merupakan tujuan hidup. Kematian bukan akhir kehidupan, tetapi justru awal dari kehidupan panjang yang merupakan tujuan hidup yang sebenamya, yakni kehidupan akhirat tempat sembilan puluh sembilan nikmat Allah diturunkan. 

Ada tiga sikap manusia dalam menghadapi nikmat Allah yang diterimanya, yaitu : Pertama, mereka yang kufur (ingkar) atas nikmat Allah yaitu mereka yang dianugerahi nikmat oleh Allah baik berupa harta, jabatan, ataupun nikmat-nikmat lainnya, bukan semakin mendekatkan diri kepada Allah tetapi justru sebaliknya mereka semakin jauh dari Allah. 

Rasul pernah menegaskan bahwa ujian yang berat adalah ujian kenikmatan. Banyak manusia ketika sengsara hidupnya, rajin beribadah, akan tetapi ketika kebahagiaan datang kepadanya, apa itu jabatan, harta ataupun yang lainnya, mereka lupa dan jauh dari Tuhannya. 

Allah juga mengingatkan dalam surat Al-Anbiya' ayat 35 : 


Artinya : 
"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan ". 

Seseorang menganggap sesuatu itu ujian ketika dia mendapatkan kesusahan, tetapi seorang yang mendapatkan kesenangan tidak pernah menganggap bahwa hal itu adalah ujian Allah, padahal susah atau senang dua-duanya merupakan ujian. 

Sebagai orang yang bertaqwa harus menganggap bahwa kesusahan atau kesenangan adalah ujian Allah. Ketika kesenangan itu datang kepada kita hendaknya kita tetap mendekatkan diri kepada Allah dengan jalan meamal ibadah kita. Kalau misalnya kesenangan itu berupa harta, keluarkan sebagian harta kita ke jalan yang diridhoi Allah. 

Karena tidak sedikit hamba Allah yang mendapatkan kenikmatan apakah harta atau kedudukan justru mereka menjauhi Tuhan, inilah yang disebut dengan "Kufur nikmat". Seseorang yang mengkufuri nikmat Allah akan mendapatkan siksa baik di dunia maupun di akhirat kelak. 

Sejarah telah mencatat nama "Qarun" hamba Allah yang kufur nikmat. Kekayaan Qarun melimpah tetapi dia tidak bersyukur, akhirnya dia beserta seluruh harta kekayaannya ternakan oleh bumi. Itulah azab Allah yang pedih. 

Kedua, bersikap syukur ketika mendapatkan anugerah nikmat dari Allah. Mereka sadar bahwa kenikmatan itu adalah karunia-Nya. Harta, jabatan dan kedudukan serta semua yang ada ini milik Allah. 

Rasul pernah mengungkapkan bahwa harta, pangkat dan jabatan adalah titipan Tuhan. Suatu saat akan kita tinggalkan, dan yang kita bawa hanya kain kafan. Ciri orang yang syukur nikmat adalah semakin dekat kepada Allah, mentaati segala peraturan Allah serta tetap adanya peningkatan taqwa. 

Salah satu wujud dari syukur nikmat adalah menginfakkan sebagian harta kita untuk kepentingan Islam. Karena harta merupakan potensi di samping jiwa untuk memperjuangkan Islam. Allah menegaskan daiam surat Ash-Shaf ayat 10 dan 11: 


Artinya : 
"Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih. (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik dari kamu jika kamu mengetahuinya " 

Kelemahan umat Islam terlihat ketika dituntut untuk mengorbankan apa yang dimilikinya. Padahal tidak ada seorang yang rugi akibat dari mendermakan hartanya, Allah berjanji. 


Artinya : 
"Jika kamu menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolongmu ". (Muhammad ayat 7). 

Salah satu keberhasilan perjuangan Rasul adalah karena para sahabat tidak segan-segan mengeluarkan hartanya demi kepentingan Islam. Di antara para sahabat itu adalah istri Rasulullah sendiri yaitu Siti Khodijah. 

Ketiga, seseorang yang bersikap gembira ketika mendapatkan nikmat, tidak henti-hentinya menyebut nama Allah Akan tetapi dia akan berbalik menghina-hina Allah ketika nikmat itu dikurangi oleh Allah. Sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Ghaasyiah ayat 15 dan 16: 


Artinya : 
"Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dinuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: "Tuhanku telah memuliakanku Adapun bila Tuhannya menguiinya lalu membatasi rizkinya maka dia berkata: Tuhanku menghinaku " 

Inilah tiga sikap di dalam menghadapi nikmat anugerah Tuhan Illahi Rabbi. 

Sumber : Khutbah Jum'at pada tanggal 10 Agustus 1992 di Kantor Pusat BRI.

Itulah Khutbah Jumat engan tema Nikmat Illahi. Anda dapat menggunakannya sebagai materi manakala anda ditunjuk sebagai khotib sholat jumat. Demikianlah Khutbah Jumat : Nikmat Illahi

Khutbah Jumat : Miskin Mengaku Kaya



Artinya : 
"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir; seratus biji. Allah melipat gandakan (guhjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui". (Al-Baqarah 261) 

Kisah seorang miskin mengaku kaya ini diambil dari kisah di zaman Rasulullah SAW. Kisah ini terjadi pada waktu sore hari sehabis Rasulullah dan para sahabatnya melaksanakan shalat 'Ashar bersama. 

Suasana dialog seperti itu merupakan kebiasaan yang sering terjadi di beranda masjid. Di samping itu acap kali Rasulullah menyampaikan fatwa-fatwa kepada para sahabatnya. 

Kebetulan pada sore itu terlihat di kejauhan seseorang berjalan sempoyongan tertatih-tatih menuju masjid. Orang itu sempoyongan bukan karena mabuk minuman keras, akan tetapi disebabkan karena kekurangan makan didalam bepergiannya.

Musafir itu kemudian menghampiri beranda masjid dan mengucapkan "Assalamu'alaikum" kepada Rasulullah dan para sahabatnya. Setelah Rasulullah dan para sahabat menjawab salamnya, orang tersebut kemudian berkata kepada Rasulullah, "Wahai Rasul, saya membutuhkan seteguk air dan sesuap nasi untuk menghilangkan rasa lapar dan dahaga, karena sudah tiga hari saya belum kemasukan setetes air dan sesuap nasi, dapatkah engkau menolongku". 

Dengan spontan Rasulullah menjawab, "Saya sendiri dari pagi sampai sekarang ini baru kemasukan sebutir kurma". Oleh Rasulullah kemudian ditawarkan kepada para sahabat, "Wahai sahabatku, siapa di antara kalian yang mampu memberikan bantuan kepada musafir ini, yang kebetulan bepergian jauh dan sudah tiga hari ini belum mencicipi makan dan minum". 

Semua sahabat yang hadir pada waktu itu mengacungkan tangannya menyatakan mampu untuk membantu musafir kelaparan itu". Sahabat Abu Bakar yang dermawan itu terheran-heran sebab di antara sahabat yang miskin juga ikut menunjuk tangan ingin membantu. Bahkan sahabat yang paling miskin-pun, bernama Zuro'i ikut menunjuk tangan. 

Kemudian oleh sahabat Abu Bakar ditanya, "Wahai Zuro'i, apakah anda mempunyai makanan untuk musafir, tamu kita ini, padahal kami tahu bahwa anda adalah sahabat yang paling miskin di antara para sahabat yang hadir ini".

Zuro'i dengan suara lantang menjawab, "Wahai sahabat Abu Bakar, itu dahulu. tetapi saat ini saya mampu memberikan makanan besar kepada tamu kita ini". Akhirnya Rasulullah memutuskan dan menunjuk sahabat Zuro'i untuk menjamu musafir itu. Bukan main gembiranya sahabat Zuro'i mendapat kehormatan dari Rasulullah itu. 

Dengan tergopoh-gopoh dan muka berseri-seri, Zuro'i memberitahukan kepada istrinya di rumah, "Wahai istriku, kita akan mendapat tamu besar, siapkan makan untuk tamu kita itu". 

Dengan senang hati istri Zuro'i menerima khabar itu, tetapi kemudian dia sampaikan bahwa hari itu mereka hanya mempunyai segenggam gandum untuk persediaan makan mereka berdua hari itu. 

Kata Zuro'i, "Masaklah gandum itu untuk tamu kita". Setelah itu Zuro'i kembali ke masjid dan memberitahukan kepada Rasulullah bahwa makanan besar sudah tersedia. Menyebutkan makanan besar segenggam gandum karena dia adalah orang yang termiskin. 

Kemudian musafir itu diajak ke rumahnya kebetulan waktu sudah menjelang maghrib. Maka sebelum bersantap mereka shalat berjama'ah terlebih dahulu. Suasana rumah Zuro'i dalam keadaan gelap, karena mereka kehabisan minyak lampunya. Kemudian istrinya mencari minyak. 

Dengan suasana gelap tersebut, Zuro'i mempersilahkan untuk menyantap hidangan yang telah disediakan. Mangkok yang berisi makanan diberikan tamunya, sedangkan dia memegang mangkok kosong. Dengan membawa minyak untuk menyalakan lampunya, istrinya bertanya. bagaimana masakan saya. Zuro'i menjawab, al-hamdulillah habis dimakan semua. Istrinya kembali merjawab, al-hamdulillah, masih ada yang mau memakan masakan saya. 

Sangat tinggi nilai akhlak Zuro'i dan istrinya. Begitu tamu itu pulang dan diantar sampai masjid yang tidak jauh dari rumahnya, ada orang yang mengantar senampan gandum kepada istrinya di rumah. Inilah bukti kandungan surat Al-Baqarah ayat 261 di atas. Hendaknya meniadi renungan (tadzkirah) untuk berkorban. 

Rasulullah bersabda: "Seandainya orang-orang kaya diantara kamu adalah yang paling dermawan, seandainya para pemimpinmu adalah yang paling baik di tengah-tengah kamu dan seandainya segala persoalan di antaramu diselesaikan dengan musyawarah sesama kamu, maka hidup dipunggung bumi ini jauh lebih menyenangkan dari pada berkubur di dalamnya". (Al-Hadits). 

Semoga sabda Nabi ini menggugah hati kita untuk senantiasa berkorban sesuai dengan ukuran dan kemampuan kita. 

Sumber : Khutbah Jumat pada tanggal 28 Mei 1993 di Kantor Pusat BRI 

Demikianlah khutabah jumat dengan tema Miskin Mengaku Kaya yang dapat kami tuliskan. Semoga bermanfaat Khutbah Jumat : Miskin Mengaku Kaya.

Khutbah Jumat : Anugerah Tuhan

Khutbah Jumat : Anugerah Tuhan | Berikut ini adalah khutbah jumat yang disampaikan Oleh : Drs. H. Abd. Aman Nasution 

Artinya : 
"Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah) dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah rangorang yang lalai". (Al-A'raf 179). 

Rasulullah diutus Allah ke bumi untuk memberikan tuntunan kepada manusia agar kembali mengenal dirinya, mengenal Tuhannya, mengenal nabinya, mengenal kitabnya dan mengenal terhadap kehendak Allah atas manusia sebagai khalifah di bumi "Khalifatullah fil-ardli" 

Sejarah manusia dari zaman ke zaman menunjukkan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan yang diberikan oleh Allah kepada manusia kadang-kadang disalah gunakan. 

Kemajuan ilmu pengetahuan ymg mereka peroleh tidak didasarkan atas pengabdian kepada Allah, akan tetapi dari menurutkan hawa nafsunya. Sehingga timbul pemikiran, apa yang dapat dimanfaatkan dari lingkungan untuk kepentingannya, bukan sebaliknya, apa yang dapat diperbuat untuk Allah dan lingkungannya sebagaimana misi Rasul terhadap ummatnya. 

Misi Rasul terhadap ummatnya adalah untuk menjadi rahmat bagi sekahan alam, "Wamaa Arsalnaaka Illaa Rahmatal-lil 'alamiin ". 

Firman Allah di atas memberikan peringatan kepada manusia agar senantiasa menganalisa hidup dan kehidupan. Apakah fasilitas yang diberikan Allah kepada kita sebagai bekal hidup ini sudah dipergunakan sebagaimana mestinya, yakni untuk mendengar dan membaca ayat dan tanda-tanda kekuasaan Allah Pencipta alam ini. Jangan sampai nikmat yang Allah anugerahkan menjadikan kita berlebih-lebihan, sehingga kita lupa terhadap Allah yang menciptakannya, "Al-Haakumuttakaatsur". 

Berlebih-lebihan akan membawa kita lupa kepada Allah, lupa akan hak dan kewajiban kita terhadap fakir miskin dan anak-anak yatim. Itulah orang yang mendustakan agama. Sebagaimana peringatan Allah dalam surat Al-Maa'uun. 


Artinya : 
"tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orangorang yang berbuat riya', dan enggan (menolong dengan) barang berguna". (Al-Maa 'uun). 

Orang-orang yang lupa terhadap tujuan utama pelaksanaan ibadah shalat sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Maa'uun di atas diancam oleh Allah dengan neraka yang mencelakakan 'Wail". 

Hendaknya shalat mencerminkan perilaku dalam kehidupan sehari-hari, yakni mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar, "Tanha 'Anil Fahsyaa wal Munkar" 

Apalagi kalau dilengkapi dengan shalat tahajjud, akan mendapatkan derajat yang terpuji di Sisi Allah. Sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Israa' ayat 79. 


Artinya : 
"Dan pada sebagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji " 

Wariskan kepada anak keturunan kita Iman dan Islam untuk dijadikan bekal hidup sesudah mati, oleh karena kehidupan sesudah mati adalah kehidupan yang kekal dan kehidupan yang sebenarnya. 

Rasul mengajak kepada ummatnya realita dalam hidup dan kehidupan. Bahwa realisasi kehidupan manusia adalah beribadah kepada Allah dengan berlandaskan Al-Qur'an dan sunah Rasul. 

Dalam kisahnya, Rasulullah pernah menceritakan kehidupan seorang yang durjana, hampir semua kejahatan dilaksanakan tanpa tertinggal. Kemudian setelah mati dia disiksa, tetapi pada suatu saat dia terbebas dari siksa Allah. Orang itu bertanya kepada malaikat, kenapa dia terbebas dari siksa Allah. Malaikat menjawab, sebab dia meninggalkan kepada anaknya pendidikan agama, sehingga anak yang ditinggalkan itu selalu mendo'akan orang tuanya agar dibebaskan dari siksa neraka.

Berkat do'a anaknya itulah orang itu terbebas dari siksaan Allah, dan kemudian dipersilahkan untuk masuk syurga yang penuh dengan kenikmatan itu, "Udhuluuhaa bisalaamin aaminien". 

Oleh karena itu, usahakan agar anak keturunan kita benar-benar mengerti tentang agama Islam "Addinul Islam ". Sehingga mereka menjadi anak yang "Khairu Ummah", sebaik-baik umat, yakni menyeru kepada kebaikan dan mencegah yang mungkar. Sebagaimana dijelaskan dalam Al Qur'an. 


Artinya : 
"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang mungkar". (Ali 'Imran ayat 110). 

Inilah pola dan sikap hidup seorang mukmin. Dengan modal pola dan sikap hidup seperti inilah cita-cita bangsa dan negara akan terwujud, yakni: "Baldatun Thoyyibatun wa-Rabbun Ghafuur". 

Sumber : Khutbah Jum'at pada tanggal 30 Apri11993 di Kantor Pusat BRI 

Doa Niat Sholat Tarawih dan Zikir

I. Pengertian sholat tarawih


Kata Tarawih berasal dari bahasa arab yaitu bent]uk jama’ dari lafazh “Tarawihah” yang artinya istirahat. Dinamakan demikian karena orang orang yang mengerjakan sholat ini biasanya beristirahat dalam tiap tiap dua rakaat atau empat rakaat. 


Sedang menurut syara’ ( istilah ) shalat tarawih itu adalah shalat sunnat yang dikerjakan setiap malam bulan ramadhan, dan hukumnya sunnat muakkad, yaitu suatu bentuk ibadah yang sangat dianjurkan untuk di kerjakan baik oleh kaum muslimin laki-laki maupun perempuan.


Shalat tarawih juga disebut dengan “Qiyamu Ramadhan” ( ibadah pada malam bulan ramadhan) yang pahalanya sangat besar sekali. Karenanya, maka Rosulullah SAW selalu menganjurkan kepada para umatnya untuk senantiasa mengerjakan sholat tarawih. Sebagaimana yang telah diterangkan di dalam hadist Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim yang artinya sebagai berikut :

“ Barang siapa beribadah pada malam bulan ramadhan ( Shalat Tarawih ) dengan penuh keimanan serta ikhlas kepada Allah, maka akan diampuni segala dosa – dosanya yang telah lalu ”

Dan shalat tarawih ini boleh dilakukan secara sendirian maupun berjamaah. Namun lebih utama bila dikerjakan secara berjamaah.

II. Waktu dan bilangan rakaat shalat tarawih 

Shalat sunnat tarawih dikerjakan setelah melaksanakan shalat isya sampai terbitnya fajar di ufuk timur dan sebelum mengerjakan shalat witir di bulan ramadhan.

Bilangan rakaat sholat tarawih adalah dua puluh rakaat dengan tiap dua rakaat satu kali salam. Sebagaimana amalan yang telah di lakukan pada khalifah Umar Bin Khaththab r.a. berdasarkan kesepakatan para ulama (ijma). Namun ada pula yang mengerjakan 8 rakaat dengan tiap 4 rakaat satu kali salam. Tujuan tidak lain adalah untuk menyiarkan malam Qiyamu Ramadhan. Sebagaimana yang telah dijalaskan di dalam sebuah hadits yang di riwayatkan oleh Imam Malik yang artinya :

“ Adalah orang orang pada zaman khalifah Umar Bin Khaththab r.a. saat mengerjakan sholat malam di bulan Ramadhan ( shalat tarawih ) sebanyak 23 rakaat “


III. Tatacara shalat tarawih

Pada dasarnya mengerjakan sholat tarawih sama halnya mengerjakan sholat sholat sunnat lainnya. Hanya saja niatnya berbeda.

Berdasarkan kesepakatan para Ahli Fiqih ( ittifaq Fuqoha' ), letak niat ada di dalam hati ( wajibnya ). Dan menurut Jumhur Fuqoha' ( mayoritas Ahli Fiqih ) kecuali Maliki, bahwa " pengucapan" niat dengan lisan hukumnya sunnah, hal ini karena membantu hati dalam merealisasikan niat tersebut. Agar pengucapan dan pelafalan itu membantu " daya ingat", sedangkan Maliki tidak memandangnya sunnah karena tidak manqul dari Nabi saw. (Sumber : mudarosahkajianfiqih.blogspot.com)

Niat shalat tarawih

Niat cukup dalam hati karena niat sendiri berarti ilmu atau mengetahui. Maka setiap orang yang mengetahui melakukan ibadah shalat, maka ia sudah disebut berniat. Tidak perlu ada lafazh niat di lisan karena tidak ada satu dalil dari Al Qur’an dan hadits pun yang membicarakan anjuran tersebut. Masalah niat ini berlaku bagi shalat dan ibadah lainnya. ( Lebih lengkapnya disini saudaraku : http://www.carasholatdhuha.com/2017/01/keanehan-anjuran-melafazhkan-niat.html )

IV. Doa sholat tarawih



doa sholat tarawih

Artinya:
"Wahai Allah! Jadikanlah kami orang-orangyang sempurna imannya, menunaikan kewajiban-kewajiban, memelihara shalat, menunaikan 
zakat, mehcari' anugerah yang adai di sisi Engkau, mengharap ampunan Engkau, berpegang teguh dengan petunjuk (Engkau), menjauhi kesia-siadn, zuhud di dunia, dan senangkepadaakhirat, rela terhadap keWhtuan (kepastian), bersyukur terhadap nikmat, 4 sabar terhadap cobaan, dan berjalan pada. hari kiamat di bawah panji penghulu kami, Nabi Muhammad saw,datang ke telaga (yang sejuk), masuk ke dalam sufga, selamat dari neraka, duduk di atas singgasana kemuliaan, menikah dengan bidadariyangcantik, menge-nakan pakaian dari sutera yang tip is dan tebal, memakan makanan surga, meminum susu danmaduyangjernih,dengan gelas,teko, dan piala dari mata airyang selalu mengalir, bersama orang-orangyang telah Engkau berikan nikmat, yaitupara nabi, shiddiqun, syuhada, dan orang-orang yang shaleh, mereka ituldh sebaik-baik teman, anugerah itudari Allah, dan cukuplah Allah YangMahaMengetahui. Dan segalapuji milik Allah, Tuhan semesta alam."

Tata Cara Shalat Witir

Shalat witir adalah shalat sunnat yang dekerjakan pada malam hari dengan jumlah rakaat ganjil. Adapun hokum mengerjakannya adalah sunnat muakkad. Artinya shalat sunnat yang sangat dianjurkan oleh Allah SWT. Sebagaimana yang telah dijelaskan di dalam hadits Nabi SAW yang di riwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan Imam Tarmidzi yang artinya :

“ Sesungguhnya Allah itu satu (ganjil). Dia suka akan sesuatu yang ganjil (shalat witir) , maka dari itu , shalat witirlah kamu wahai ahli Quran “

Waktu dan bilangan shalat witir

  • Waktu shalat witir

Sebagaimana besar para ulama telah sepakat bahwa waktu mengerjakan shalat witir itu adalah setelah shalat isya sampai terbitnya fajar (sebelum masuknya waktu shalat subuh.

Sebagaimana sabda Nabi SAW yang artinya :

“ setiap malam Nabi SAW shalat witir, kadang kadan permulaan hari , pada tengah malam, dan pada akhir malam , witirnya berakhir pada waktu sahur.” ( HR Jama’ah yang bersumber dari ‘aisyah ra ) 

Berdasarkan sabda Rasulullah SAW diatas terebut maka jelaslah bawawa waktu mengerjkan shalat witir itu adalah sesudah shlat isya sampai terbitnya fajar. Namun, bagi orang yang tidak biasa bangun pada tengah malam , mka shalat sunnat wittir itu utamanya dilaksanakan pada awal malam. Dan yang lebih utamanya lagi jika shalat witir itu dikerjakan setelah shalat malam , karena shalat witir itu sebagai penutup atau penyempurna shalat sunnat malam ( Qiyamul Laili ) baik setelah mengerjakan shalat tarawih maupun shalat Tahajjud.

Sebagaimana yang telah diterangkan di dalam hadits Nabi SAW yang artinya sebagai berikut : 

“ siapa saja di antara kamu yang khawatir tidak bisa bangun pada akhir malam, hendaklah ia shalat witir, kemudian tikdur. Dan barang siapa yang percaya akan dapat bangun pada akhir malam, hendaklah ia shalat witir pada akhir malam itu, karena shalat witir pada akhir malam itu disaksikan dan demikian itu lebih utama.” ( HR Imam Ahmad, Muslim, Tarmidzi dan Ibnu Majjahdari shabat Jabir ra )

  • Bilangan rakaat shalat witir

Adapun bilangan rakaat shalat witir itu sedkitnya adalah satu rakaat dan sebanyak banyaknya adalah sebelas rakaat. Sebagaimana yang telah diterangkan dalam hadits Nabi SAW yang artinya :

“ Adalah Rasulullah SAW biasa melakukan shalat 11 rakaat antara waktu setelah shalat isya sampai terbit fajar . Beliau salam setiap dua rakaat dan shalat witir 1 rakaat…” (HR Jamaah kecuali Imam Tarmidzi dari Aisyah ra )

Shalat witir dapat dikerjakan 1 rakaat, 3 rakaat, 5 rakaat, 7 rakaat, atau 9 rakaat dengan sekali salam. Sebagaimana yang telah diterangkan Nabi SAW yang artinya :

“Rasulullah SAW shalat witir 3 rakaat tanpa memisahkan antara rakaat rakaat tersebut.” (HR Imam Ahmad dari Aisyah)

Dan juga Nabi SAW yang artinya :

“ Jangan kamu shalat witir dengan 3 rakaat, tetapi shalat witirah kamu dengan 5 rakaat atau tujuh rakaat dan jangan kamu menyamakan dengan shalat maghrib”(HR Imam Daruquthni dengan sanad yang baik , dia berkata : “semua sanadnya terpercaya” , yang bersumber dari Abu Hurairah)

Adapun shalat witir 3 rakaat yang dilarang adalah shalat witir yang menyerupai shalat maghrib , yaitu memakai duduk tahiyyat awal. Sebagaimana yang telah diterangkan didalam hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad diatas tersebut, diamana Rasulullah SAW mengerjakannya tanpa memsahkan rakaat rakaatnya . Shalat witir tiga rakaat yang tidak menyerupai shalat Maghrib adalah tidak memakai dduk Tahiyyat awal.

Sedangkan pada shalat witir witir 7 rakaat , duduk Tahiyyat awalnya hanya dilakukan pada rakaat ke enam. Dan pada shalat witir 9 rakaat , duduk tahiyyat awal hanya dilakukan pada rakaat yang ke delapan.

Tatacara Shalat Wtir 

Tata cara mengerjakan shalat witir itu pada dasarnya sama dengan shalat shalat sunnat lain , hanya saja ada sedikit perbedaannya yaitu dalam niat. Apabila shalat witir itu dikerjakan dalam beberapa rakaat, maka sebaiknya dikerjakan tiap tiap dua rakaat satu kali salam dan yang terakhir satu rakaat .

Lafadz niat shalat witir

Niat cukup dalam hati karena niat sendiri berarti ilmu atau mengetahui. Maka setiap orang yang mengetahui melakukan ibadah shalat, maka ia sudah disebut berniat. Tidak perlu ada lafazh niat di lisan karena tidak ada satu dalil dari Al Qur’an dan hadits pun yang membicarakan anjuran tersebut. Masalah niat ini berlaku bagi shalat dan ibadah lainnya. ( Lebih lengkapnya disini saudaraku : http://www.carasholatdhuha.com/2017/01/keanehan-anjuran-melafazhkan-niat.html )


Keutamaan shalat witir dan shalat witir

Orang orang yang mengerjakan shalat tarawih dan witir dengan ikhlas semata mata karena iman kepada Allah SWT dan mengharap ridho-Nya , maka ia akan mendapatkan beberapa keutamaan dan pahala yang sangat besar sekali dari Allah SWT. Karna dalam shalat sunnat tarawih dan witir itu tersimpan dalam beberapa keutamaan dan pahala yang sangat besar , diantaranya sebagaimana yang telah diterangkan dalam sabda Rasulullah SAW yang artinya :
“ Sesungguhnya Allah Azza Wa jalla mewajibkan puasa ramadhan dan aku menyunahkan shalat (malam) pada bulan ramadhan (Shalat Tarawih). Oleh karena itu, siapa yang berpuasa dan melakaukan shalat malam karena iman dan mengharapkan keridhaan Allah, maka ia akan bersih dari segala dosanya sebagaimana pada waktu ia dilahirkan oleh ibuny.” (HR Imam Ahmad, Nasai dan Ibnu Majjah dari Adur Rahman bin Auf)

Video Shalat Witir dan Doa Qunut Syaikh Abdurrahman As-Sudais di Masjidil Haram Makkah (17 Ramadhan 1432 H)