Apakah Hukum Memajang Foto Makhluk Bernyawa

Assalamualaikum waroh matullohi wabarokaatuh, Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat serta salam kepada Nabi kita Muhammad shollallohu alaihi wassalam, keluarganya dan sahabatnya.

Kali ini kami akan menyampaikan mengenai hukum memeajang foto makhluk bernyawa. Mungkin sebagian dari kita masih ada yang belum tahu apa hukum dari memajang foto bernyawa.
Dalam berbagai hadits dilarang bagi kita untuk memajang gambar makhluk bernyawa. Misalnya yaitu gambar manusia atau hewan, bukan gambar batu, pohon dan gambar lainnya yang tidak memiliki ruh. Apabila gambar tersebut memiliki kepala, maka diperintahkan untuk dihapus. Karena kepala itu adalah intinya sehingga gambar itu bisa dikatakan memiliki ruh atau nyawa.

Nah, penjelasan lebih rincinya ada di bawah ini : 

Keterangan dari Berbagai Hadits[1]

Dalam hadits muttafaqun ‘alaih disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لاَ تَدْخُلُ بَيْتًا فِيهِ صُورَةٌ

”Para malaikat tidak akan masuk ke rumah yang terdapat gambar di dalamnya (yaitu gambar makhluk hidup bernyawa)” (HR. Bukhari 3224 dan Muslim no. 2106)

Hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu dia berkata,

نَهَى رسول الله صلى الله عليه وسلم عَنِ الصُّوَرِ فِي الْبَيْتِ وَنَهَى أَنْ يَصْنَعَ ذَلِكَ

“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melarang adanya gambar di dalam rumah dan beliau melarang untuk membuat gambar.” (HR. Tirmizi no. 1749 dan beliau berkata bahwa hadits ini hasan shahih)

Hadits Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya,

أَنْ لاَ تَدَعْ تِمْثَالاً إِلاَّ طَمَسْتَهُ وَلاَ قَبْرًا مُشْرَفًا إِلاَّ سَوَّيْتَهُ

“Jangan kamu membiarkan ada gambar kecuali kamu hapus dan tidak pula kubur yang ditinggikan kecuali engkau meratakannya.” (HR. Muslim no. 969) Dalam riwayat An-Nasai,

وَلَا صُورَةً فِي بَيْتٍ إِلَّا طَمَسْتَهَا

“Dan tidak pula gambar di dalam rumah kecuali kamu hapus.” (HR. An Nasai no. 2031. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dia berkata,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا رَأَى الصُّوَرَ فِي الْبَيْتِ يَعْنِي الْكَعْبَةَ لَمْ يَدْخُلْ وَأَمَرَ بِهَا فَمُحِيَتْ وَرَأَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ عَلَيْهِمَا السَّلَام بِأَيْدِيهِمَا الْأَزْلَامُ فَقَالَ قَاتَلَهُمْ اللَّهُ وَاللَّهِ مَا اسْتَقْسَمَا بِالْأَزْلَامِ قَطُّ

“Bahwa tatkala Nabi melihat gambar di (dinding) Ka’bah, beliau tidak masuk ke dalamnya dan beliau memerintahkan agar semua gambar itu dihapus. Beliau melihat gambar Nabi Ibrahim dan Ismail ‘alaihimas ssalam tengah memegang anak panah (untuk mengundi nasib), maka beliau bersabda, “Semoga Allah membinasakan mereka, demi Allah keduanya tidak pernah mengundi nasib dengan anak panah sekalipun. “ (HR. Ahmad 1/365. Kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari dan periwayatnya tsiqoh, termasuk perowi Bukhari Muslim selain ‘Ikrimah yang hanya menjadi periwayat Bukhari)

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke rumahku sementara saya baru saja menutup rumahku dengan tirai yang padanya terdapat gambar-gambar. Tatkala beliau melihatnya, maka wajah beliau berubah (marah) lalu menarik menarik tirai tersebut sampai putus. Lalu beliau bersabda,

إِنَّ مِنْ أَشَدِّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الَّذِينَ يُشَبِّهُونَ بِخَلْقِ اللَّهِ

“Sesungguhnya manusia yang paling berat siksaannya pada hari kiamat adalah mereka yang menyerupakan makhluk Allah.” (HR. Bukhari no. 5954 dan Muslim no. 2107 dan ini adalah lafazh Muslim). Dalam riwayat Muslim,

أَنَّهَا نَصَبَتْ سِتْرًا فِيهِ تَصَاوِيرُ فَدَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَنَزَعَهُ ، قَالَتْ : فَقَطَعْتُهُ وِسَادَتَيْنِ

“Dia (Aisyah) memasang tirai yang padanya terdapat gambar-gambar, maka Rasulullah masuk lalu mencabutnya. Dia berkata, “Maka saya memotong tirai tersebut lalu saya membuat dua bantal darinya.”

Dari Ali radhiyallahu anhu, dia berkata,

صَنَعْتُ طَعَامًا فَدَعَوْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فَجَاءَ فَدَخَلَ فَرَأَى سِتْرًا فِيهِ تَصَاوِيرُ فَخَرَجَ . وَقَالَ : إِنَّ الْمَلائِكَةَ لا تَدْخُلُ بَيْتًا فِيهِ تَصَاوِيرُ

“Saya membuat makanan lalu mengundang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk datang. Ketika beliau datang dan masuk ke dalam rumah, beliau melihat ada tirai yang bergambar, maka beliau segera keluar seraya bersabda, “Sesungguhnya para malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah yang di dalamnya ada gambar-gambar.” (HR. An-Nasai no. 5351. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata,

اسْتَأْذَنَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلام عَلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ : « ادْخُلْ » . فَقَالَ : « كَيْفَ أَدْخُلُ وَفِي بَيْتِكَ سِتْرٌ فِيهِ تَصَاوِيرُ فَإِمَّا أَنْ تُقْطَعَ رُؤوسُهَا أَوْ تُجْعَلَ بِسَاطًا يُوطَأُ فَإِنَّا مَعْشَرَ الْمَلائِكَةِ لا نَدْخُلُ بَيْتًا فِيهِ تَصَاوِيرُ

“Jibril ‘alaihis salam meminta izin kepada Nabi maka Nabi bersabda, “Masuklah.” Lalu Jibril menjawab, “Bagaimana saya mau masuk sementara di dalam rumahmu ada tirai yang bergambar. Sebaiknya kamu menghilangkan bagian kepala-kepalanya atau kamu menjadikannya sebagai alas yang dipakai berbaring, karena kami para malaikat tidak masuk rumah yang di dalamnya terdapat gambar-gambar.” (HR. An-Nasai no. 5365. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Pelajaran:

Hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu di atas, menunjukkan bahwa yang dimaksud gambar yang terlarang dipajang adalah gambar makhluk bernyawa (yang memiliki ruh) yaitu manusia dan hewan, tidak termasuk tumbuhan. Sisi pendalilannya bahwa Jibril menganjurkan agar bagian kepala dari gambar tersebut dihilangkan, barulah beliau akan masuk ke dalam rumah. Ini menunjukkan larangan hanya berlaku pada gambar yang bernyawa karena gambar orang tanpa kepala tidaklah bisa dikatakan bernyawa lagi.

Dalam hadits lain, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

اَلصُّوْرَةٌ الرَّأْسُ ، فَإِذَا قُطِعَ فَلاَ صُوْرَةٌ

“Gambar itu adalah kepala, jika kepalanya dihilangkan maka tidak lagi disebut gambar.” (HR. Al-Baihaqi 7/270. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shahih dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 1921)

Menghapus Gambar Makhluk Bernyawa

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rahimahullah ditanya, “Bisakah engkau jelaskan mengenai jenis gambar yang mesti dihapus?”

Syaikh rahimahullah menjawab, “Gambar yang mesti dihapus adalah setiap gambar manusia atau hewan. Yang wajib dihapus adalah wajahnya saja. Jadi cukup menghapus wajahnya walaupun badannya masih tersisa. Sedangkan gambar pohon, batu, gunung, matahari, bulan dan bintang, maka ini gambar yang tidak mengapa dan tidak wajib dihapus. Adapun untuk gambar mata saja atau wajah saja (tanpa ada panca indera, pen), maka ini tidaklah mengapa, karena seperti itu bukanlah gambar dan hanya bagian dari gambar, bukan gambar secara hakiki.” (Liqo’ Al Bab Al Maftuh, kaset no. 35)

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan dalam kesempatan yang lain bahwa gambar makhluk bernyawa boleh dibawa jika darurat. Syaikh Ibnu ‘Utsaimin ditanya, “Dalam majelis sebelumnya, engkau katakan bahwa boleh membawa gambar dengan alasan darurat. Mohon dijelaskan apa yang jadi kaedah dikatakan darurat?”

Syaikh rahimahullah menjawab, “Darurat yang dimaksud adalah semisal gambar yang ada pada mata uang atau memang gambar tersebut adalah gambar ikutan yang tidak bisa tidak harus turut serta dibawa atau keringanan dalam qiyadah (pimpinan). Ini adalah di antara kondisi darurat yang dibolehkan. Orang pun tidak punya keinginan khusus dengan gambar-gambar tersebut dan di hatinya pun tidak maksud mengagungkan gambar itu. Bahkan gambar raja yang ada di mata uang, tidak seorang pun yang punya maksud mengagungkan gambar itu.” (Liqo’ Al Bab Al Maftuh, kaset no. 33)

Penjelasan hukum dalam tulisan di atas semata-mata berdasarkan dalil dari sabda Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan atas dasar logika semata. Semoga Allah menganugerahkan sifat takwa sehingga bisa menjauhi setiap larangan dan mudah dalam melakukan kebaikan. Wallahu waliyyut taufiq.

Sumber : https://rumaysho.com/1620-hukum-memajang-foto-makhluk-bernyawa.html

Demikianlah artikel kami mengenai hukum memejang foto bernyawa. Semoga dengan adanya artikel di atas kita menjadi lebih tahu. 

Inilah Bahaya Kebiasaan Tidur Pagi Yang Perlu Anda Ketahui

Bahaya Kebiasaan Tidur Pagi | Seperti yang kita ketahui bahwa waktu pagi merupakan waktu yang penuh berkah. Sudah seharusnya waktu pagi ini kita manfaatkan untuk kegiatan yang bermanfaat. Akan tetapi masih banyak dari kita yang menyia - nyiakan waktu pagi ini. Kita malah malas - malasan dan menggunakan waktu pagi ini untuk tidur. Seharusnya yang kita lakukan yaitu untuk bekerja, beribadah atau melakukan ketaatan.


Ketahuilah bahwa orang-orang sholih terdahulu sangat membenci tidur pagi. Kita dapat melihat ini dari penuturan Ibnul Qayyim ketika menjelaskan masalah banyak tidur yaitu bahwa banyak tidur dapat mematikan hati dan membuat badan merasa malas serta membuang-buang waktu. Beliau rahimahullah mengatakan,

“Banyak tidur dapat mengakibatkan lalai dan malas-malasan. Banyak tidur ada yang termasuk dilarang dan ada pula yang dapat menimbulkan bahaya bagi badan.

Waktu tidur yang paling bermanfaat yaitu :
[1] tidur ketika sangat butuh,
[2] tidur di awal malam –ini lebih manfaat daripada tidur di akhir malam-,
[3] tidur di pertengahan siang –ini lebih bermanfaat daripada tidur di waktu pagi dan sore-. Apalagi di waktu pagi dan sore sangat sedikit sekali manfaatnya bahkan lebih banyak bahaya yang ditimbulkan, lebih-lebih lagi tidur di waktu ‘Ashar dan awal pagi kecuali jika memang tidak tidur semalaman.

Menurut para salaf, tidur yang terlarang adalah tidur ketika selesai shalat shubuh hingga matahari terbit. Karena pada waktu tersebut adalah waktu untuk menuai ghonimah (pahala yang berlimpah). Mengisi waktu tersebut adalah keutamaan yang sangat besar, menurut orang-orang sholih. Sehingga apabila mereka melakukan perjalanan semalam suntuk, mereka tidak mau tidur di waktu tersebut hingga terbit matahari. Mereka melakukan demikian karena waktu pagi adalah waktu terbukanya pintu rizki dan datangnya barokah (banyak kebaikan).” (Madarijus Salikin, 1/459, Maktabah Syamilah)

BAHAYA TIDUR PAGI [1]

[Pertama] Tidak sesuai dengan petunjuk Al Qur’an dan As Sunnah.

[Kedua] Bukan termasuk akhlak dan kebiasaan para salafush sholih (generasi terbaik umat ini), bahkan merupakan perbuatan yang dibenci.

[Ketiga] Tidak mendapatkan barokah di dalam waktu dan amalannya.

[Keempat] Menyebabkan malas dan tidak bersemangat di sisa harinya.

Maksud dari hal ini dapat dilihat dari perkataan Ibnul Qayyim. Beliau rahimahullah berkata, “Pagi hari bagi seseorang itu seperti waktu muda dan akhir harinya seperti waktu tuanya.” (Miftah Daris Sa’adah, 2/216). Amalan seseorang di waktu muda berpengaruh terhadap amalannya di waktu tua. Jadi jika seseorang di awal pagi sudah malas-malasan dengan sering tidur, maka di sore harinya dia juga akan malas-malasan pula.

[Kelima] Menghambat datangnya rizki.

Ibnul Qayyim berkata, “Empat hal yang menghambat datangnya rizki adalah [1] tidur di waktu pagi, [2] sedikit sholat, [3] malas-malasan dan [4] berkhianat.” (Zaadul Ma’ad, 4/378)

[Keenam] Menyebabkan berbagai penyakit badan, di antaranya adalah melemahkan syahwat. (Zaadul Ma’ad, 4/222)

[1] Pembahasan berikut disarikan dari tulisan Ustadz Abu Maryam Abdullah Roy, Lc yang berjudul ‘Tholabul ‘Ilmi di Waktu Pagi’ dan ada sedikit tambahan dari kami.

Demikianlah artikel Bahaya Kebiasaan Tidur Pagi dari kami yang dapat kami sampaikan. Semoga apa yang kami sampaikan diatas bermanfaat bagi Anda yang sedang mencari ilmu. Demikianlah Bahaya Kebiasaan Tidur Pagi.
sumber :  www.rumaysho.com

Murottal Ustad Yusuf Mansur Lengkap

Murottal Ustad Yusuf Mansur  MP3 Lengkap - Oke, Bagi anda yang memang sangat menggemari Ustad Yusuf mansur pastinya anda ingin mengoleksi Murottal beberapa surat dari beliau. Saat ini saya akan membagikan Murottal Ustad Yusuf Mansur  MP3 yang saya punyai. Semoga bermanfaat bagi kita semua .

Murottal Ustad Yusuf Mansur  MP3 Lengkap

Al Waqiah - Murotal Ust Yusuf Mansur.mp3 
ArRahman - Murotal Ust Yusuf Mansur.mp3 
Murotal Yusuf Mansur - ar- rahman.mp3 
Murotal Yusuf Mansur - al mulk.mp3 
Murotal Yusuf Mansur - al muzammil.mp3 
Murotal Yusuf Mansur - anaba.mp3 
Murotal Yusuf Mansur - QS Al-Mulk.mp3 
Murotal Yusuf Mansur - QS Yaasin.mp3 

Surat Ad Duha Latin Arab dan Murottal

Surah Ad-Duha (الضحى) merupakan surat ke-93 dari al-Qur'an. Surat Ad-Dhuha ini memiliki 11 ayat. Surat ini merupakan salah satu surat Makkiyah dan diturunkan sesudah surah Al-Fajr. Penamaan dari surat ini diambil dari kata yang terdapat pada ayat pertama yang berbunyi Ad-Dhuha . Dan memiliki arti "waktu matahari sepenggalahan naik".

Mengenai isinya, surat Adh Dhuhaa ini menjelaskan mengenai bimbingan pemeliharaan Allah SWT terhadap Nabi Muhammad SAW dengan cara yang tak putus-putusnya. Selain itu surat ini juga mengandung perintah kepada Nabi agar mensyukuri segala nikmat itu.



Pokok Isi :

  • Allah SWT sekali-kali tidak akan meninggalkan Nabi Muhammad SAW.
  • Isyarat dari Allah SWT yang menjelaskan bahwa kehidupan Nabi Muhammad SAW dan dakwahnya akan bertambah baik dan berkembang.
  • Larangan menghina terhadap anak yatim serta menghardik orang-orang yang minta-minta.
  • Perintah untuk menyebut-nyebut nikmat yang diberikan oleh Allah, sebagai bentk rasa syukur

Surat Ad Dhuhaa




Download Mp3 Surat Ad Duha

Qari NameListenDownload
Abdul-Mun'im Abdul-Mubdi'mp3 )mp3 )
AbdulAzeez al-Ahmadmp3 )mp3 )
AbdulBari ath-Thubaitymp3 )mp3 )
AbdulBaset AbdulSamad with Ibrahim Walk [Saheeh Intl Translation]mp3 )mp3 )
AbdulBaset AbdulSamad with Naeem Sultan [Pickthall Translation]mp3 )mp3 )
AbdulBaset AbdulSamad [Mujawwad]mp3 )mp3 )
AbdulBaset AbdulSamad [Murattal]mp3 )mp3 )
AbdulBaset AbdulSamad [Warsh]mp3 )mp3 )
AbdulKareem Al Hazmimp3 )mp3 )
Abdullah Ali Jabirmp3 )mp3 )
Abdullah Ali Jabir [Taraweeh]mp3 )mp3 )
Abdullah Awad al-Juhanimp3 )mp3 )
Abdullah Basfarmp3 )mp3 )
Abdullah Basfar with Ibrahim Walk [Saheeh Intl Translation]mp3 )mp3 )
Abdullah Khayatmp3 )mp3 )
AbdulMuhsin al-Qasimmp3 )mp3 )
AbdulWadud Haneefmp3 )mp3 )
Abdur-Rahman as-Sudaismp3 )mp3 )
Abdur-Rashid Sufimp3 )mp3 )
Abdur-Rashid Sufi [Abi al-Haarith an al-Kasaa'ee]mp3 )mp3 )
Abdur-Rashid Sufi [ad-Doori an Abi Amr]mp3 )mp3 )
Abdur-Rashid Sufi [Khalaf]mp3 )mp3 )
Abdur-Rashid Sufi [Shu'bah an Asim]mp3 )mp3 )
Abdur-Rashid Sufi [Soosi]mp3 )mp3 )
Abdur-Razaq bin Abtan al-Dulaimi [Mujawwad]mp3 )mp3 )
Abu Bakr al-Shatrimp3 )mp3 )
Abu Bakr al-Shatri [Taraweeh]mp3 )mp3 )
Adel Kalbanimp3 )mp3 )
Ahmad al-Huthaifymp3 )mp3 )
Ahmed ibn Ali al-Ajmymp3 )mp3 )
Al-Hussayni Al-'Azazy (with Children)mp3 )mp3 )
Ali Abdur-Rahman al-Huthaifymp3 )mp3 )
Ali al-Huthaify [Qaloon]mp3 )mp3 )
Aziz Alilimp3 )mp3 )
Fares Abbadmp3 )mp3 )
Hamad Sinanmp3 )mp3 )
Hani ar-Rifaimp3 )mp3 )
Hatem Farid - Taraweeh 1431mp3 )mp3 )
Hatem Farid - Taraweeh 1432mp3 )mp3 )
Ibrahim Al Akhdarmp3 )mp3 )
Ibrahim Al-Jibreen [1426-1427]mp3 )mp3 )
Ibrahim Al-Jibrinmp3 )mp3 )
Idrees Akbarmp3 )mp3 )
Imad Zuhair Hafezmp3 )mp3 )
Khalid Al Ghamdimp3 )mp3 )
Khalid al-Qahtanimp3 )mp3 )
Madinah Taraweeh 1419mp3 )mp3 )
Madinah Taraweeh 1423mp3 )mp3 )
Madinah Taraweeh 1426mp3 )mp3 )
Madinah Taraweeh 1427mp3 )mp3 )
Madinah Taraweeh 1428mp3 )mp3 )
Madinah Taraweeh 1429mp3 )mp3 )
Madinah Taraweeh 1430mp3 )mp3 )
Madinah Taraweeh 1431mp3 )mp3 )
Madinah Taraweeh 1432mp3 )mp3 )
Madinah Taraweeh 1433mp3 )mp3 )
Maher al-Muaiqlymp3 )mp3 )
Mahmoud Khalil Al-Husarymp3 )mp3 )
Mahmoud Khalil Al-Husary [Doori]mp3 )mp3 )
Makkah Taraweeh 1424mp3 )mp3 )
Makkah Taraweeh 1425mp3 )mp3 )
Makkah Taraweeh 1426mp3 )mp3 )
Makkah Taraweeh 1427mp3 )mp3 )
Makkah Taraweeh 1428mp3 )mp3 )
Makkah Taraweeh 1429mp3 )mp3 )
Makkah Taraweeh 1430mp3 )mp3 )
Makkah Taraweeh 1431mp3 )mp3 )
Makkah Taraweeh 1432mp3 )mp3 )
Makkah Taraweeh 1433mp3 )mp3 )
Masjid Quba Taraweeh 1434mp3 )mp3 )
Mishari al-`Afasy - Taraweeh 1430mp3 )mp3 )
Mishari ibn Rashid al-`Afasy with Ibrahim Walk [Saheeh Intl Translation]mp3 )mp3 )
Mishari ibn Rashid al-`Afasy with Saabir [Muhsin Khan Translation]mp3 )mp3 )
Mishari Rashid al-`Afasymp3 )mp3 )
Mohamed Al-Tablawimp3 )mp3 )
Mohammad Al-Tablawimp3 )mp3 )
Mohammad Ismaeel Al-Muqaddimmp3 )mp3 )
Mostafa Ismaeelmp3 )mp3 )
Muhammad Abdul-Kareemmp3 )mp3 )
Muhammad al-Luhaidanmp3 )mp3 )
Muhammad al-Mehysnimp3 )mp3 )
Muhammad Ayyoobmp3 )mp3 )
Muhammad Ayyoob [Taraweeh]mp3 )mp3 )
Muhammad Ayyub with Mikaal Waters [Muhsin Khan Translation]mp3 )mp3 )
Muhammad Hassanmp3 )mp3 )
Muhammad Jibreelmp3 )mp3 )
Muhammad Jibreel (Partial)mp3 )mp3 )
Muhammad Khaleelmp3 )mp3 )
Muhammad Siddiq al-Minshawimp3 )mp3 )
Muhammad Siddiq al-Minshawi [Mujawwad]mp3 )mp3 )
Muhammad Sulaiman Patelmp3 )mp3 )
Mustafa al-`Azawimp3 )mp3 )
Nabil ar-Rifaimp3 )mp3 )
Nasser Al Qatamimp3 )mp3 )
Saad al-Ghamdimp3 )mp3 )
Saad al-Ghamdi (Partial)mp3 )mp3 )
Sadaqat `Alimp3 )mp3 )
Sahl Yasinmp3 )mp3 )
Salah al-Budairmp3 )mp3 )
Salah Al-Hashimmp3 )mp3 )
Salah Bukhatirmp3 )mp3 )
Sa`ud ash-Shuraymmp3 )mp3 )
Shakir Qasami with Aslam Athar [Pickthall Translation]mp3 )mp3 )
Sudais and Shuraymmp3 )mp3 )
Sudais and Shuraym with Aslam Athar [Pickthall Translation]mp3 )mp3 )
Sudais and Shuraym with Naeem Sultan [Pickthall Translation]mp3 )mp3 )
Sudais and Shuraym [Urdu Translation]mp3 )mp3 )
Tawfeeq ibn Sa`id as-Sawa'ighmp3 )mp3 )
Yasser ad-Dussarymp3 )mp3 )

Referensi 

Anda juga dapat melihat postingan kami mengenai Surat Mutafiffin, dan Al alaq. Didalam postingan terebut kami telah menyediakan Mp3 dari surat tersebut serta bacaan latinnya. Selain itu Anda juga dapat mendengar bacaan Juz 30 dengan suara yang merdu dari Ustadz Yusuf Mansur Juz 30.